
Orang tua mana sih yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya..segala cara pasti ditempuh supaya anak – anak mempunyai sandan pangan dan pendidikan yang bagus. Apalagi dengan arus globalisasi saat ini yang membuat persaingan kerja dipasaran semakin ketat, belum lagi dampak krisis di kawasan di Eropa yang dapat memberikan impak berkurangnya lapangan pekerjaan dan mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran bagi tenaga kerja yang kurang terampil.
Kembali ke topik diatas, bagaimana menyiasati meningkatnya biaya pendidikan dan juga memberikan hak ke anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dan sekaligus mempunyai keterampilan yang dapat memberikan value added untuk bersaing bagi mendapatkan pekerjaan yang sesuai atau yang diimpikan?
Berhubung kemampuan ekonomi kami juga tidak berlebihan maka cermat untuk memilih sekolah sangat penting, sehingga kami tidak hanya mengikuti eforia masa kini untuk masuk ke sekolah yang top dalam hal biaya. Karena saat ini ada semacam generalisasi bahwa sekolah yang mahal itu bagus, jadi kami sebagai orang tua harus realitis dan bijaksana untuk memilih sekolah yang diharapkan dapat memberi bekal yang terbaik bagi anak – anak tapi biayanya masih masuk akal bagi kantong kami. Toh, seberapapun bagusnya sekolah anak – anak peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung dan memonitor perjalanan pendidikan dan kedewasaan anak – anak. Jadi kita tidak bisa menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan pendidikan anak – anak ke sekolah dengan excuse karena sudah membayar mahal.
Untuk sekedar sharing saja mengenai biaya pendidikan SD dari anak -anak, kami sebagai orang tua menyiapkan dana pendidikan anak – anak mengikuti standar biaya pendidikan di Al Azhar, tetapi dalam pelaksanaannya saat ini kami memilih sekolah anak – anak yang sekarang yaitu SD Tunas Karya Kelapa Gading dengan alasan sbb :
1. Sekolahnya ok dan termasuk dalam sekolah yang disiplinnya ketat
2. Tidak terlalu jauh dari rumah
3. Biayanya masih lebih murah.
4. Anak – anak dan orang tua lebih low profile
Di Tunas Karya ini dalam menerapkan disiplin murid – murid biasanya mereka menerapkan punishment yang mendidik bila terjadi pelanggaran, seperti contohnya anak kami dan beberapa temannya sempat telat 5 menit belum ada di dalam kelas padahal tasnya sudah ada di meja masing-masing, akhirnya oleh gurunya mereka diberi hukuman untuk menulis “ saya berjanji tidak akan terlambat lagi” sebanyak 300 kali dan tulisan tersebut harus diparaf oleh orang tua murid untuk menunjukkan bahwa orang tua juga paham dan menghargai hukuman tersebut sebagai salah satu cara untuk mendidik anak supaya tidak mengulang perbuatannya.
Mengenai jarak yang dekat dengan rumah, biasanya kami mengantarkan anak – anak ke sekolah dengan memakai sepeda motor karena kalo memakai mobil itu bikin macet dan gak fleksibel dan jarak tempuh ke sekolah kurang lebih hanya 5 menit saja. Pertimbangan jarak sekolah yang dekat dari rumah adalah supaya waktu anak – anak tidak banyak terbuang di jalan sehingga mereka bisa melakukan aktivitas yang lain di siang hari yaitu TPA, karena kalo mengaji di malam hari waktu akan terpecah dengan rutinitas kegiatan belajar.
Uang masuk juga tidak terlalu mahal, waktu yang paling kecil Marizka masuk SD tahun 2010 hanya membayar uang pangkal sekitar Rp 5 jutaan setelah diberi diskon karena early bird. Sementara uang bulanan kurang lebih sbb :
| Kegiatan | Ayesha / Kelas IV | Marizka / Kelas 1 |
| SPP bulanan | Rp 485,000 | Rp 325,000 |
| Les pelajaran | Rp 150,000 | Rp 150,000 |
| Ekstrakurikuler | ||
| Pramuka dan drumband | Rp 35,000 | |
| Menari | Rp 25,000 | |
| Total | Rp 665,000 | Rp 490,000
|
Kemudian mengenai social life di sekolah, kecenderungan anak – anak itu adalah meniru yang biasanya dipunyai oleh temannya seperti gadget, tas, sepatu, dll. Alhamdulillah, disini mereka tidak jor – joran atau tidak terlalu show off. Contohnya mengenai pemakaian HP, mungkin kalo sekolah anak saya jauh, HP merupakan kebutuhan tapi berhubung sekolah anak-anak masih dekat maka keperluan untuk mempunyai HP belum urgent. Jadi saya juga belum memberikan HP tersendiri untuk anak-anak apalagi masih kelas IV, tapi saya ijinkan anak-anak untuk memakai HP/BB saya.
Disamping keperluan pendidikan duniawi maka bekal agama juga sangat penting, dimana agama bisa menjadi pondasi akhlak anak – anak dan juga untuk bekal di akhirat nanti. Alhamdulillah rumah kami dekat dengan masjid yang mempunyai TPA, jadi selesai sekolah mereka pergi ke TPA setiap jam 14.30 s/d 16.30. Saat ini SD kelas IV pulang jam 12.00 dan kalau ada les pelajaran maka pulang lebih lambat yaitu jam 13.45, untuk yang SD kelas 1 pulang jam 09.30 dan kalau ada les pelajaran berangkat lagi ke sekolah karena les dilakukan jam 12.15 s/d 13.45. Jadi mereka masih punya waktu istirahat sebentar sebelum melanjutkan dengan TPA. Smoga sebelum lulus SD mereka sudah bisa menamatkan Al Quran sehingga saat mau menempuh ujian akhir SD bisa lebih fokus. Amin
Saat ini kegiatan mereka selain sekolah adalah :
• Les Pelajaran di Sekolah seminggu 2 kali
• Ekstrakurikuler,Ayesha kelas IV yaitu drumband dan pramuka, sementara Marizka kelas 1 hanya les menari.
• Les Bahasa Inggris seminggu 2 kali yaitu dari jam 16.40 s/d 18.10, TPA pulang lbh awal kalo les Inggris
• Les Melukis setiap hari Sabtu selama 2 jam
• TPA setiap hari Senin – Jumat jam 14.30 – 16.30
Biasanya kalo ikut lomba drumband maka 2 bulan sebelumnya latihan mulai digenjot, ini memang biasanya menyita energi anak-anak. Alhamdulillah dalam lomba drumband sekolah Tunas Karya selalu mendapat juara walaupun belum tentu menjadi juara 1, tentu saja ini memberi nilai positif bagi anak – anak bahwa dengan kerja keras dan team work yang baik maka menghasilkan prestasi bukanlah suatu hal yang mustahil.
Oya, dulu sebelum anak – anak mengambil les melukis, tiap sabtu kegiatan anak – anak adalah les berenang, intinya weekend harus diisi dengan kegiatan yang produktif juga, sementara untuk hari minggu biasanya istirahat atau gak ya ngajak makan diluar.
So, in total kebutuhan biaya SPP dan kegiatan tambahan anak – anak kami tiap bulan adalah sbb :
| Kegiatan | Ayesha | Marizka |
| Uang SPP dan kegiatan | Rp 665,000 | Rp 490,000 |
| Les Melukis | Rp 400,000 | Rp 200,000 |
| Les Bahasa Inggris | Rp 250,000 | Rp 250,000 |
| TPA | Rp 50,000 | Rp 50,000 |
| Total | Rp 1,365,000 | Rp 990,000 |
Biaya yang tidak rutin biasanya ada seperti biaya study tour, biaya sumbangan saat akan mengikuti lomba drumband. Di Tunas Karya tidak banyak dipungut biaya macam – macam seperti dana untuk kegiatan tahunan, dll. Tentu saja, biaya entertain anak – anak tiap weekend tidak saya masukkan karena walaupun besar tapi angkanya tidak fixed.
Kesimpulannya adalah masing – masing orang tua mempunyai preference dan prioritas masing – masing sehingga ini akan menjadi dasar bagi pemilihan sekolah untuk anak – anak. Memberikan skills tambahan untuk anak – anak juga penting, disamping untuk menambah kepercayaan diri anak – anak, specific skills yang dimiliki anak – anak nantinya juga bisa membuat mereka menjalin networking yang lebih luas. Yang tidak kalah penting juga adalah peran orang tua dalam pendampingan sekolah anak – anak dalam setiap tahapan pendidikan.
Selamat memilih sekolah yang terbaik untuk buah hati anda dan jangan lupa menyiapkan dana pendidikannya juga .





